Ini Perawat RSPI Sulianti Saroso Bereskan Pasien Corona Covid-19

Ini Perawat RSPI Sulianti Saroso Bereskan Pasien Corona Covid-19

Nurdiansyah, perawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso tidak menduga akan berlangsung pademi virus corona Covid-19 di Indonesia. Dia baru setahun 1/2 kerja di dalam rumah sakit referensi nasional pasien Covid-19 itu.

Sebelumnya dia kerja di ruang spesial buat pasien HIV/Aids. Tetapi waktu virus corona jadi epidemi global serta masuk Indonesia, semua ruang di RSPI Sulianti Saroso dipakai untuk menjaga pasien Covid-19.

Pada Desember 2019, Nurdiansyah akui dianya serta beberapa perawat yang lain sudah ikuti training untuk hadapi MERS CoV.

” Atau recharge lagi terikat dengan pencegahan dan pengendalian infeksi. Nah ini kita training serta mendadak di bulan Maret di Indonesia ada masalah Covid-19. Pada akhirnya semua ruang kita buat jadi ruang Covid-19, ” tuturnya lewat pertemuan wartawan daring, Minggu (19/4/2020).

Baca Juga : Final Liga Champions Musim Ini Kemungkinan Diadakan 29 Agustus 2020

Ini Perawat RSPI Sulianti Saroso Bereskan Pasien Corona Covid-19

Ini Perawat RSPI Sulianti Saroso Bereskan Pasien Corona Covid-19

Mulai sejak itu, Nurdiansyah untuk pertama kali menjaga pasien Covid-19. Tiap perawat harus kenakan alat pelindung diri (APD) yang komplet semua tubuh.

” Jadi benar-benar harus tertutup, kita menggunakan sepatu boot, kita menggunakan pakaian cover all. Selanjutnya kita menggunakan google, selanjutnya masker N-95, ” katanya.

Beberapa pasien di RSPI Sulianti Saroso diawasi lewat camera CCTV yang dipasang di masing-masing ruang. Hal tersebut dilaksanakan untuk meminimalisasi contact dengan pasien serta menahan penyebaran virus.

” Kita bicara ke pasien melalui monitor, saat pasien ada perlu apa kelak saat kita masuk baru dilaksanakan perawatan, ” katanya.

Kemudian, katanya, baru dilaksanakan perawatan keperluan pasien. Apa pasien perlu ubah pakaian, atau akan ubah infus, atau agenda minum obat.

” Itu kita sediakan semua, terus makannya. Kebetulan saya di ruang rawat inap, jadi sudah terencana, agenda dinasnya itu pagi, selanjutnya siang, malam. Jadi ada tiga shift, ” tuturnya.

Nurdiansyah menjelaskan, tiap perawat mendapatkan tanggung jawab mengatasi dua pasien corona Covid-19. Hal tersebut mengejar terus bertambahnya jumlah masalah corona Covid-19 serta kurangnya tenaga kesehatan.

Waktu lakukan perawatan pada pasien, ia memberikan tambahan, satu perawat dapat habiskan waktu lebih satu jam. Hal tersebut tergantung pada tidakan apa yang disebut oleh pasien.

Tidakan itu termasuk juga pemasangan infus, kontrol jantung, serta yang lain. ” Nah ini yang kita kerjakan ke pasien paling cepat 30 menit. Tetapi saat kita pegang pasien, bisa saja disana tiga jam lebih, ” katanya.

Dia serta akui sempat mengatasi pasien lebih dari empat jam. Ini karena disebabkan pasien berasa ketakutan sendirian. Serta tidak berani bila perawat keluar ruang.

Ini Perawat RSPI Sulianti Saroso Bereskan Pasien Corona Covid-19

” Jadi benar-benar kita motivasi pasien, mentalitas pasien kita kuatkan supaya imunitasnya kuat. Sampai pasien itu pegang tangan kita, ” tuturnya.

Nurdiansyah menceritakan jika dianya sering temukan pasien corona yang alami sesak napas. Waktu semacam itu, hal yang paling penting ialah membuat pasien masih santai kecuali mengajari tehnik pernafasan.

” Dan kita tujukan untuk melihat beberapa hal yang positif di TV, ” tuturnya.

Stigma sosial pada tenaga kesehatan yang menanganai pasien virus Corona atau Covid-19 masih berlangsung.

Hal tersebut diutarakan Nurdiansyah, salah satunya perawat Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr Sulianti Saroso waktu share pengalaman di Gedung Tubuh Nasional Pengendalian Musibah (BNPB), Minggu (19/4/2020).

Nurdiansyah akui dengar banyak narasi tentang perawat yang diusir dari kontrakannya ditengah-tengah epidemi virus corona. Disamping itu, cukup banyak juga perawat yang diasingkan oleh tetangganya sendiri.

” Jika anaknya (anak perawat) main ke anak tetangga, diambil anak tetangga itu oleh orangtuanya tidak untuk dekat, ” kata Nurdiansyah.

Nurdiansyah mengatakan keprihatinannya pada tingginya angka perawat yang positif terkena virus corona Covid-19. Baik itu yang masih juga dalam perawatan di Rumah Sakit atau yang sudah wafat.

Menurutnya, sejumlah besar perawat itu terjangkiti waktu jalani pekerjaan. ” Kemungkinan sebab ketidakjujuran pasien, serta kemungkinan terjangkiti di luar, ” sebut ia.

Untuk bentuk kebersamaan tenaga kesehatan ditengah-tengah epidemi corona ini, Nurdiansyah menjelaskan, semua perawat menempatkan pita hitam di lengan.

” Ini bentuk duka kita pada rekan-rekan sejawat, ” tutur ia.

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*