Narasi Ahli RS di Wuhan : Plasma Darah untuk Pasien COVID-19 Benar-benar Aman

Narasi Ahli RS di Wuhan : Plasma Darah untuk Pasien COVID-19 Benar-benar Aman

BandarQQ – Therapy plasma darah dapat dibuktikan menjanjikan buat kesembuhan pasien COVID-19. Plasma konvalesen dari pasien COVID-19 yang telah pulih ditransfusikan pada pasien COVID-19 yang masih juga dalam perawatan. Situasi pasien COVID-19 gawat serta berat jadi target pemberian plasma konvalesen.

Xiaobei Chen dari Departemen Penyakit Menyebar, Renmin Hospital of Wuhan, Tiongkok share pengalaman pemberian plasma konvalesen pada pasien yang dirawat di rumah sakit tempatnya bekerja. Pasien COVID-19 yang mendapatkan therapy plasma konvalesen makin lebih baik dari waktu ke waktu.

Plasma darah konvalesen untuk membuat, membuat, serta menghasilkan anti-bodi pada tubuh. Pada pasien COVID-19, khususnya situasi gawat atau berat, badan akan susah membuat anti-bodi sendiri. Dengan begitu, plasma konvalesen seperti suntikan yang akan merangsang terciptanya anti-bodi.

Baca Juga : Lockdown Corona COVID-19 Dilonggarkan Masyarakat Inggris Diharap Naik sepeda

Narasi Ahli RS di Wuhan : Plasma Darah untuk Pasien COVID-19 Benar-benar Aman

Narasi Ahli RS di Wuhan : Plasma Darah untuk Pasien COVID-19 Benar-benar Aman

Efisiensi plasma darah konvalesen pada pasien COVID-19, lanjut Chen, telah masuk dalam dasar perlakuan COVID-19 di Tongkok. Di akhir Januari 2020, rumah sakit di semua Tiongkok mulai memakai plasma darah untuk penyembuhan untuk pasien COVID-19. Shenzhen Third People’s Hospital di Kota Shenzhen termasuk juga yang pertama mengawali pemberian plasma konvalesen.

Melihat Tiongkok yang pertama-tama jadi tempat menyeruaknya masalah COVID-19, beberapa negara di dunia yang terpengaruh penyakit sama turut mengaplikasikan therapy plasma darah. Amerika Serikat mengawali project besar mempelajari therapy plasma darah. Semakin dari 1. 500 rumah sakit diikutsertakan, seputar 600 pasien sudah terima penyembuhan. Hasil pemberian plasma darah, tidak memunculkan efek.

Pemerintah Inggris tengah terus-menerus kumpulkan plasma konvalesen. Pengumpulan plasma darah akan dinaikkan dari April sampai Mei 2020. Sasaran plasma darah yang terkumpul sampai 10 ribu unit plasma darah yang dikirim ke National Health Service Inggris tiap minggu. Jumlah ini diampu cukup menjaga 5. 000 pasien COVID-19 tiap minggunya.

Menteri Analisa serta Tehnologi/Tubuh Analisa serta Pengembangan Nasional (BRIN) Bambang P. S. Brodjonegoro menjelaskan, riset plasma darah telah mulai dilaksanakan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta.

Efisiensi plasma darah sukses walau masih membutuhkan analisa dalam jumlah besar. Kemenristek/BRIN dengan Kementerian Kesehatan akan lakukan analisa yang semakin besar serta menyertakan banyak rumah sakit di beberapa wilayah di Indonesia.

” Hingga bukan hanya di Jakarta, untuk meningkatkan convalescent plasma. Contohnya, di Malang, Yogyakarta, Surabaya, Solo atau beberapa tempat yang lain, ” jelas Bambang di Graha BNPB, Jakarta, Minggu (3/5/2020).

Pemberian plasma darah konvalesen ada dosis khusus. Chen mengemukakan, dia serta teamnya memberi dosis 200 ml sampai 500 ml plasma konvalesen pada tiap pasien.

Ada batasan sampai 500 ml plasma darah dipandang cukup membuat anti-bodi pada badan pasien COVID-19 yang gawat. Dalam periode waktu pemberian plasma konvalesen semasa 1 sampai 2 minggu, pasien mulai lebih baik. Kandungan immunoglobulin (IgG), tipe anti-bodi yang tercipta dalam darah bertambah.

” Disaksikan dari beberapa pasien saya, sesudah mereka terima transfusi plasma darah. IgG -nya tercipta serta bertambah. Pokoknya, therapy plasma darahnya efisien. Pada umumnya, 1 sampai 2 minggu, situasi pasien telah lebih baik, ” Chen memberikan tambahan.

IgG untuk anti-bodi alami untuk pasien COVID-19 bisa tercipta sendirinya semasa pasien terima perawatan. Tetapi, ada kelompok pasien COVID-19 khusus yang susah menghasilkan anti-bodi sendiri. Pasien COVID-19 yang punyai kisah penyakit berat, seperti kanker serta paru-paru termasuk juga susah membuat anti-bodi.

Jurnal berjudul Critical patients with coronavirus disease 2019 : Risk factors and outcome nomogram menjelaskan, studi masalah pada 82 pasien COVID-19 di Wuhan dengan status situasi gawat. Riset yang dilaksanakan Chen serta team pada 1 Februari serta 24 Februari 2020 memvisualisasikan, pasien COVID-19 dengan kisah penyakit komorbid punyai anti-bodi yang rendah.

Beberapa penyakit komorbid yang akan jadi parah situasi pasien COVID-19 sekaligus juga semakin turunkan anti-bodi salah satunya, hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, paru-paru obstruktif, serta penyakit ginjal.

” Bagaimanapun pasien dengan penyakit komorbid lansia (lanjut usia), semakin dari 70 tahun, keadaannya akan makin jelek bila ia diserang virus Corona. Ini sebab kebal badan mereka lemah, ” catat Chen dalam jurnal yang diterbitkan di Journal of Infections pada 13 April 2020.

” Kesimpulannya, semasa epidemi COVID-19, lanjut usia di atas 70 tahun dengan penyakit komorbid akan beresiko tinggi alami ketidakberhasilan peranan organ, hingga membuat situasi mereka makin gawat. “

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*